Keluarga Baru Itu Bernama Ksatria Bumantara

Keluarga Baru Itu Bernama Ksatria Bumantara

Akhir-akhir ini saya punya hobi baru: mantengin aplikasi Telegram di handphone untuk ngobrol dengan 125 anggota keluarga baru saya.

Keluarga baru itu bernama Ksatria Bumantara.

Dua minggu lalu saya baru saja pulang dari kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK), sebuah kegiatan yang wajib diikuti oleh awardee LPDP sebelum terbang ke negara tujuan masing-masing untuk kuliah. Dalam satu PK ada 100 sampai 130 anggota, dan saya tergabung dalam PK angkatan 62 yang kegiatannya dilaksanakan pada 4-9 April 2016 di Wisma Hijau, Depok.

Bukan kemauan saya untuk bergabung dalam PK-62, semuanya sudah diatur oleh Pak Kamil selaku PIC PK. Awalnya saat pembagian PK diumumkan saya sedikit kecewa karena waktunya bentrok dengan jadwal kerja saya yang waktu itu belum resmi resign. Saya akhirnya berusaha untuk mengajukan perpindahan PK, mulai alasan via verbal sampai bawa-bawa surat perusahaan sebagai penguatan alasan. Setidaknya saya berharap bakal dipindahkan ke PK-64 atau PK-PK lain yang pelaksanaannya lebih lama lagi.

Dasar sayanya gampang baper. Makin ke sini kok saya makin jatuh hati sama PK-62 ini. Apalagi waktu tugas-tugas mulai berdatangan, entah individu ataupun skala kelompok dan angkatan. Komitmen awal saya, selama belum resmi diizinkan pindah, saya bakal tetap mengerjakan tugas PK-62. Termasuk ketika ditunjuk jadi PIC Dokumentasi angkatan, saya iyakan saja. Tapi yang paling bikin baper kalau saya mulai bermaksud melucu di grup Telegram dan teman-teman mulai balas “Jen jangan pindah dari PK-62 ya..” Aduhhh… aku tuh paling gak bisa diginiin, hahaha.. Gimana dong, sementara juga saya sadar masih punya tanggung jawab untuk terus bekerja sampai tanggal 11 April.

Akhirnya saya curhat ke Reza soal ini. Dia yang tahu saya sudah males banget kerja dan keburu cinta sama PK-62 akhirnya bilang, “Udah pergi aja. Tinggal lebih lama di sini juga kamu udah gak fokus kerja. Mending pergi PK senang-senang sama teman baru, dapat pengalaman baru”. Mama saya pun meledek, “Kamu pasti sudah bosan banget kerja kan?”. Huaahh iya saya mau PK ajaaa.. Dengan modal bismillah, saya pasti dapat ganti yang lebih baik, saya japri mas Asep, wakil ketua PK-62, “Mas Asep, saya gak jadi pindah ya. Saya mau stay aja di PK-62”. Mungkin mas Asep waktu itu senang, walaupun barangkali menyesal juga akhirnya setelah tahu karakter asli saya yang sekarang hobi banget ngeledekin dia di grup Telegram, hahaha.. Dan resmilah saya menjadi anggota PK-62!

PK-62 ini bernama Ksatria Bumantara, nama pemberian Ainun, teman angkatan kami yang jago banget berfilosofi. Ksatria bermakna pemberani, sementara Bumantara bermakna angkasa, yang bisa juga merupakan singkatan dari Bumi Nusantara. Nama ini sesuai dengan makna bahwa kami awardee PK-62 akan terbang menuntut ilmu ke seluruh penjuru dunia namun akhirnya bakal kembali ke bumi pertiwi, Indonesia, untuk membaktikan diri kepada negeri. Untuk maskot angkatan di desain oleh Mas Norman, diberi nama Buma yang wujudnya sepintas mirip Gatot Kaca tapi dalam versi unyu-unyu, hehehe..

Screen Shot 2016-04-24 at 10.30.54 AM

Buma, maskot angkatan PK-62 Ksatria Bumantara

Resmi bergabung dalam keluarga besar Ksatria Bumantara dan berkesempatan mengenal lebih dalam lagi anggota keluarga lainnya membuat saya menyadari banyak sekali orang hebat dan berprestasi di angkatan ini. Ada Husni yang tergabung dalam Doctor Without Borders, yang selama bertugas selalu ditempatkan di daerah konflik. Ada Agatha dan Ayu yang bakat menyanyi dan menarinya sudah membawa mereka ke berbagai pentas international. Ada Rachel finalis Puteri Indonesia, ada Ali finalis Abang None Jakarta. Ada Barry yang pernah menjadi Paskibraka di Amerika sewaktu mengikuti exchange student di sana. Dan teman-teman lain yang sudah punya prestasi macam-macam, dalam maupun luar negeri. Saya jadi minder, kalau mengutip kata Desica, “Apalah aku ini cuma remah-remah Jasjus, dikena air dikit langsung ngilang”, hahaha.. Yang bikin saya salut mereka semua humble dan selama PK sama sekali tidak memusingkan semua perbedaan maupun jabatan dalam kehidupan sehari-hari. Yang experienced bergaul dengan yang fresh graduated, yang beranak dua pun tidak sungkan bercanda dengan yang masih jomblo. Saya masih ingat, pagi itu Pak Frega, TNI peraih beasiswa doktoral, datang diantar ajudannya. Namun selama PK beliau paling semangat memimpin kita olahraga pagi dengan joget poco-poco. Dalam hati saya bangga bisa mengenal mereka, calon pembesar negara ini. Ini juga menjadi motivasi pribadi untuk saya, sepulang dari PK ini saya harus lebih banyak belajar dan mengukir prestasi lagi.

Seperti cerita teman-teman saya yang sudah menjadi awardee sebelumnya, PK ini adalah kegiatan yang paling ditunggu-tunggu sekaligus bikin baper. Walaupun resmi dimulai hari Senin, dari Jumat sebelumnya saya sudah datang ke Jakarta untuk membantu persiapan teman-teman angkatan. Yang lucu di hari Sabtu saya dan teman kelompok yang diberi nama Ascarya sepakat untuk numpang nginap di TK punya keluarga Fitra untuk latihan persiapan penampilan kelompok, seperti Ksatria Berdangdut dan Lipsync Combat. Saya yang kebagian nampil di Lipsync Combat berduet bareng Astra dan bakal bawain lagunya Sherina yang judulnya Jagoan. Kalau diingat-ingat kembali penampilan kita kemarin pas PK saya suka malu sendiri, belum lagi Astra yang didandanin dengan codet dan brewok dadakan pakai eyeliner, hahaha.. Untung deh kita masih kebagian dapat juara 2!

DSCF8579

Saya dan Astra jadi Sherina dan Sadam, bawain lagu Jagoan di Lipsync Combat

Selama PK saya juga tidak hanya dapat teman-teman baru yang super seru dan hebat, tapi juga materi yang menginspirasi. Mulai dari cerita-cerita sesawa awardee yang dibawakan Pak Kamil di sesi PIC PK Menyapa (termasuk semangat Pak Kamil yang selalu memotivasi untuk dapat jodoh sesama awardee, ehm..) hingga bagaimana Bu Corina, Wakil Dekan Fakultas Psikologi UI, membagi pengalamannya kuliah sambil mengurus keluarga di Australia. Yang menjadi favorit saya adalah di hari closing saya bisa bertemu dengan Kang Maulana Syuhada, penulis buku 40 Days In Europe, salah satu buku yang sejak hampir 10 tahun lalu sudah memotivasi saya untuk suatu hari nanti bisa meraih beasiswa kuliah di luar negeri. Sebelum berangkat PK saya sudah norak-norak bergembira bawa buku Kang Maul untuk ditandatangani saat closing, dan akhirnya kesampaian! Tanda tangan Kang Maul semakin memotivasi saya untuk berkarya sebaik mungkin saat sudah hidup di Barcelona nanti.

Saya dan Tika mengapit Kang Maul dengan buku 40 Days In Europe edisi pertama dan terbaru

Saya dan Tika mengapit Kang Maul dengan buku 40 Days In Europe edisi pertama dan terbaru

Saya benar-benar bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga besar Ksatria Bumantara. Di balik itu semua, yang juga berterima kasih kepada Reza yang sudah membesarkan hati saya untuk berani mengambil keputusan pergi lebih cepat dari Papua agar bisa tetap mengikuti rangkaian kegiatan PK-62. Jika saya tidak cukup nekat mengambil keputusan saat itu, ceritanya pasti akan luar biasa berbeda. Saya tidak akan pernah mengenal 125 orang-orang hebat ini, saya tidak akan pernah meneriakkan jargon angkatan “Menerbangkan asa, membangun bangsa!”, bahkan saya mungkin tidak akan pernah tahu kalau Sarwar Khan yang tampil di acara Mario Teguh Super Show episode ‘Kepompong Emas’ adalah awardee PK-62, hahaha..

Berada di Wisma Hijau selama enam hari dan menjadi bagian dari 126 orang-orang hebat keluarga besar Ksatria Bumantara betul-betul menggugah perasaan saya. Satu keyakinan yang semakin pasti adalah, bagaimanapun keadaan negara ini sekarang, percayalah dalam beberapa tahun yang akan datang bangsa ini akan bangun dari tidur panjangnya dengan semangat membangun negeri yang dibawa pulang oleh awardee LPDP selepas mereka belajar di berbagai penjuru dunia. Dan betapa beruntungnya saya bisa menjadi bagian dari semua pengalaman ini, sungguh karunia besar dalam hidup yang Allah berikan untuk tidak akan pernah berhenti saya syukuri sepanjang hayat.

Selamat terbang untuk menuntut ilmu ke berbagai penjuru dunia, wahai Ksatria Bumantara. Selamat menerbangkan asa dan membangun bangsa. Sampai ketemu di batas impian yang pasti menjadi nyata.

About:

Jeanne Svensky Ligte adalah alumni Teknik Industri Universitas Hasanuddin yang akan melanjutkan pendidikan masternya ke Universitat Autònoma de Barcelona, Spain, untuk program European Master in Logistics and Supply Chain Management. Punya misi mengunjungi 30 negara di usia 30 tahun. Tulisannya yang lain bisa dibaca di sini.
2 Comments

2 thoughts on “Keluarga Baru Itu Bernama Ksatria Bumantara

  1. Aziz Awaludin says:

    Oh, April…selalu suka deh ama bulan itu 😀
    Oya, pertama kali gue datang ke WH, orang pertama yg pengen gue liat itu: JEANNE
    SVENSKY LIGTE! (capslock jebol plus aga gombal)
    Inget atau nggak kita kan udh segrup Line ama Amores itu, hehehehe
    Nama lu unik dan gue ampe nulis di pemetaan buku angkatan itu, “Mungkin kalo punya
    anak kasih nama Jeanne ya.” Hahahaha 😀
    *yg ini pengakuan dosa gue

    1. Jeanne Svensky Ligte says:

      Jangan dikasih nama Jeanne, nanti anaknya jadi bolang yang jarang pulang hahaha…

Add Your Comment: