Pendidikan Mengubah Hidupku

Aku adalah orang Indonesia kebanyakan: kurus, sekolah seadanya, dan berasal dari kampung. Dan aku sekeluarga sudah lama berdamai dengan kemiskinan. Ayahku adalah mantan pahlawan devisa republik ini, atau lebih dikenal TKI, selama lebih dari 20 tahun di Saudi Arabia dan ibuku hanyalah penjual nasi uduk dan lontong yang keliling kampung setiap pagi buta. Namun, segala keterbatasan itu tidak menjadi alasan untuk tidak maju.

Tidak seperti kebanyakan anak di desaku, aku termasuk orang yang cukup berani. Ya, aku memiliki mimpi! Sebuah cita-cita yang membuncah dalam dadaku, yaitu aku sangat mendambakan setiap anak Indonesia bisa mengakses pendidikan yang berkualitas. Ya, keadilan sosial dalam pendidikan harus ditegakkan. Tak peduli dari mana seorang anak berasal, dia harus bisa bersekolah dengan baik. Sebagaimana cita-cita negeri ini yang tertuang dalam prinsip kelima Pancasila, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Prinsip ini harus diterapkan dalam mendidik segenap putra-putri bangsa. Anak-anak di Papua, misalnya, harus menerima standar pendidikan yang sama dengan mereka yang tinggal di Jakarta dan begitupun anak-anak dari daerah lainnya.

Asal muasal mimpi itu muncul tak lain adalah berdasar pengalaman pendidikan yang kulalui. Aku memulai pendidikan pertamaku di sebuah SD Negeri di desa bernama Pingku, sebuah daerah di Kabupaten Bogor. Di SD aku hanya memiliki 3 guru yang setiap hari mengampu 6 kelas sekaligus. Otomatis satu guru mengajar 2 kelas dalam 1 waktu, ditambah kondisi ruang kelas yang kurang memadai: jumlah kelas kami hanya 5 ruangan, padahal rombongan belajarnya ada 6—ketika naik kelas 3 aku harus berbagi ruangan dengan siswa kelas 4. Juga, di dinding dan atap kelas banyak sekali lubang. Makanya bila hujan tiba kelas kami akan kebanjiran.

Selanjutnya, aku meneruskan studi di Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami, Leuwiliang, Bogor, yang tak kalah memprihatinkan kondisinya. Bayangkan, bahkan keadaan kelas kami lebih parah dari kandang: dinding-dindingnya terbuat dari tripleks, atapnya asbes penuh lubang, dan alasnya tanah merah yang gampang berubah jadi lumpur. Bila hujan tiba, aku sangat senang karena kelas akan otomatis diliburkan mengingat kondisi ruang kelas yang seperti tersulap bak sawah saja.

Kondisi ruang kelas Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami. Ketika naik kelas 9 MTs, aku menempati kelas paling ujung.

Kondisi ruang kelas Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami. Ketika naik kelas 9 MTs, aku menempati kelas paling ujung.

Di siang hari yang terik, biasanya kami pergi belajar di luar kelas, di bawah pepohonan yang teduh.

Di siang hari yang terik membakar kelas beratap asbes dan tak berpaltform, biasanya kami pergi belajar di alam bebas, di bawah pepohonan yang teduh. Oya, mengenai seragam, kami tidak terlalu memusingkannya. Asal terlihat rapi, walau hanya pakai baju koko, dan mau pergi sekolah tidak masalah 😀

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, pernah mengatakan bahwa 75% sekolah-sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar yang ada. Kita juga banyak menyaksikan di berita-berita ironi pendidikan yang tak kunjung terpecahkan. Masalah-masalah, seperti ruang kelas yang hampir ambruk, terputusnya jembatan yang jadi satu-satunya akses ke sekolah, dan banyak lagi, masih saja terjadi di Republik yang, katanya, sudah merdeka ini. Apakah ini salah pemerintah semata? Aku kira setiap dari anak bangsa harus mencoba untuk sedikit memikul beban ini.

Di 2008, setelah lulus dari pesantren—setingkat SMA—aku memutuskan untuk melakukan pengabdian di sebuah pondok pesantren di Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Ketika itu aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa lebarnya gap antara pendidikan di Jawa dan Sumatera. Tentu aku tidak mau tinggal diam. Sebagai orang yang memiliki tanggung jawab sebagai guru dan pendidik, aku berusaha semampuku untuk meningkatkan kualitas bahasa Arab dan Inggris para santri—kebetulan aku ditunjuk sebagai koordinator bahasa di pondok tersebut. Aku pun menyusun sebuah kamus yang kemudian diberi judul “Kamus Santri” dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Arab untuk membantu pelajar memperkaya pembendaharaan kosakata mereka (surprisingly, kamus itu bisa diterima di beberapa pesantren lain di Jambi, Lampung, Kalimantan dan Bogor).

kamus

Kamus Santri telah membantu banyak siswa di pesantren dan terlebih menolongku melanjutkan studi ke jenjang perkuliah yang saat itu sedang dalam kesulitan finansial. Aku kemudian bisa sekolah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan beberapa rupiah hasil penjualan kamus tersebut dan sambil bekerja. Dengan segala keterbatasan aku tetap ingin terus bersekolah karena aku percaya dengan jalan pendidikan aku dapat mewujudkan mimpiku sekaligus mimpi Indonesia untuk menciptakan pendidikan yang berkeadilan.

Benar saja di tahun pertama aku berhasil mendapatkan beasiswa untuk mengikuti short course di Turki selama satu bulan untuk mengunjungi beberapa sekolah model di Negeri Dua Benua tersebut. Aku juga terpilih menjadi mahasiswa berprestasi, wisudawan terbaik, dan peserta program pembibitan dosen di kampus. Dengan semua pencapaian itu aku menorehkan senyum bangga di air muka seorang TKI dan Penjual Uduk, Bapak dan Ibu tercinta. Kini aku sangat yakin pendidikan tidak hanya bisa mengubah nasibku, tapi juga dapat memperbaiki nasib keluargaku, agamaku, dan bangsaku.

Selamat hari pendidikan nasional, Para Ksatria. Mari sama-sama bersinergi memajukan pendidikan Indonesia! 🙂

About:

Aziz Awaludin adalah awardee Beasiswa LPDP PK-62, Ksatria Bumantara. Dia merupakan alumni Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang akan melanjutkan sekolahnya ke Monash University, Australia, untuk bidang studi Master of Education in Educational Leadership and Policy. Dia memimpikan pendidikan Indonesia yang berkeadilan. Baca juga tulisannya yang lain di sini.
9 Comments

9 thoughts on “Pendidikan Mengubah Hidupku

  1. Ainun Nimatu Rohmah says:

    Terima kasih ceritanya mas azis,
    terharu tiba-tiba di par pertama lalu
    berlanjut sampai akhir. Tetap
    semangat tetap berjuang! Salam
    MAMB 😉

  2. Aziz Awaludin says:

    Wah, makasih Mba Ainun, ehehehe…
    Itu curhatan bgt sih ya, malu juga dipost2
    gini :p
    Ditunggu tulisanmu 😀

  3. Rifqi says:

    Waah keren ziz. Mirip2 kisah laskar
    pelangi😃

    1. Aziz Awaludin says:

      Iya Qi…waktu sekolah makanya suka
      banget baca laskar pelangi, hehehe.

  4. Febriafia says:

    So proud of you, my bro :’)

  5. @sigivih says:

    semoga nyusul aamiin

  6. MashaAllah, saya suka
    ceritanya mas. Salam dari
    aceh, semangat terus yaaa

Add Your Comment: