My Scholarship Journey

Aku terbangun. Jam dinding menunjukkan pukul 3 sore. Aku bergegas menuju kampus. Dian, teman sekelasku, mengatakan Miss Tati, dosenku, akan segera datang. Hari ini adalah hari pertama kelas persiapan beasiswa. Persiapan beasiswa? Ya, Miss Tati yang merupakan seorang doktor lulusan Ohio State University pernah berkata kalau beasiswa itu harus disiapkan. Dan dia dengan sukarela ingin membagi pengalamannya dan mentraining untuk bisa meraih beasiswa.

Seringkali aku diberi tahu senior atau dosen-dosen bahwa mendapatkan beasiswa untuk belajar di luar negeri itu suatu keajaiban. Bagaimana tidak, untuk bisa sekadar memasukkan aplikasi ke meja donor beasiswa saja kita harus terlebih dulu memenuhi banyak hal, seperti bahasa, esai, dan nilai IPK yang di atas rata-rata. Itu pun belum tentu lolos. Kita masih harus bersaing dengan ribuan peserta lain untuk mendapatkan satu kursi di beasiswa. Aku sempat minder tapi entah kekuatan apa yang mendorongku untuk terus maju memperjuangkan beasiswa itu.

Aku teringat satu ucapan Andrea Hirata dalam novelnya, “Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” Dengan kepercayaan itu aku pun, malahan, ingin melampaui mimpiku.

Cerita tentang IELTS

IELTS menjadi momok tersendiri bagiku—tolong jangan lihat background S1-ku yang padahal dari Pendidikan Bahasa Inggris. Selain karena harga tesnya yang fantastis (kira-kira bagiku), aku tidak punya pengalaman sama sekali akan tes bahasa tersebut. Aku pun mencari tahu tentang IELTS dengan belajar online dan meminjam buku teman, tapi tetap saja belum berani mengambil real test-nya karena pacekliknya keuanganku—yang saat itu baru saja lulus kuliah. Aku tidak ingin konyol dan coba realistis saja.

Sampai suatu hari…

“Eh, Ziz, ada info beasiswa Kemenag nih,” ujar Dian di sela-sela kelas Miss Tati.

Aku langsung merampas HP Dian, rusuh. Beasiswa kursus bahasa asing, ternyata: IELTS! Ini kesempatanku, pikirku. Beasiswa itu meng-cover biaya kursus di IALF (Indonesia Australia Language Foundation) Denpasar, living allowance selama 3 bulan di Bali, tiket pesawat pulang-pergi, dan biaya tes IELTS di akhir program. Tanpa berlama-lama besoknya aku langsung menyiapkan semua persyaratan untuk beasiswa bahasa dari Kementrian Agama RI itu. Semua berkas dapat dilihat di sini dan di-upload ke scholarship.kemenag.go.id.

Di tanggal pengumuman seleksi berkas aku mendapati namaku ada di list. Aku bahagia. Aku merasakan Tuhan mulai mendekatiku. Segera kupersiapkan seleksi selanjutnya: placement test. Meskipun namanya ‘placementyang harusnya hanya sekadar tes penempatan—tapi sesungguhnya panitia menetapkan sistem gugur, dalam artian akan ada yang tidak lolos. Aku bersungguh-sungguh, merasa tidak ada kesempatan kedua.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Email masuk. Dari Kemenag. Dan napasku tertahan demi membaca satu-satu, mencari namaku. Dan…

diktis

Tuhan telah memeluk satu mimpiku.

Cerita tentang LPDP

Setelah mendapatkan sertifikat IELTS dengan nilai yang ‘cukup’ rasanya jalan mendapatkan LoA (Letter of Acceptance) menjadi tidak terlalu sulit. Sekembalinya dari ‘pertapaan’ di Pulau Dewata aku langsung menyambangi sebuah agen pendidikan di Jakarta untuk meminta bantuan mendaftarkanku di kampus tujuan, Monash University, Australia.

Meskipun sudah beberapa kali ditolak beasiswa lain, yakni AAS dan Chevening, aku tipe yang sedikit idealis. Aku tidak mau daftar LPDP sebelum memenuhi semua persyaratan, termasuk LoA. Namun, di minggu terakhir pendaftaran LoA belum kunjung singgah ke emailku. Aku resah. Tinggal tersisa 3 hari lagi dan belum ada juga notifikasi. Hingga sore itu pun tiba…

monash

Aku pun mengunggah dokumen yang sedari lama diharap-harap itu. Bismillah. Aku tinggal menunggu pengumuman seleksi administrasi. Dan sembari menanti aku sowan ke beberapa kolega yang telah lebih dulu lulus LPDP untuk meminta tips dan trik seleksi substansi: wawancara, on the spot essay, dan leaderless group discussion (LGD).

Pada 2 Februari aku dinyatakan berhasil melewati seleksi administrasi. Aku punya waktu 2 minggu untuk mematangkan persiapan interview-ku. Di hari yang telah ditentukan aku sudah dengan penampilan terbaikku: berpakaian batik, celana bahan, sepatu pantopel, dan—inilah khasku—berpeci songkok hitam. 😀

Aku bersama teman-teman seperjuangan melakukan simulasi interview dan diskusi untuk LGD. Aku juga sudah mengkompilasi semua ‘amunisi’ yang nantinya akan dipersembahkan kehadirat para interviewer. Aku membawa karya-karyaku dan sertifikat yang berkaitan dengan: pengalaman organisasi, pengalaman menjadi volunteer, pengalaman seminar dan konferensi, pengalaman short course, pengalaman menjadi pembicara dan pemateri, dan pengalaman mendapatkan award atau penghargaan. Tak lupa, Kamus Santri, yang dulu berjasa mengantarkanku ke S1, ikut menemani.

kamus

Satu lagi yang juga tidak kalah penting, yaitu sebuah karya kreativitasku yang kemudian diberi judul “Album Kehidupan”: sebuah rangkuman dari 20 tahun perjalanan pendidikanku.

album

Dengan gaya nyentrik (karena efek peci hitam yang nangkring di atas kepala) dan ‘senjata’ di tas dan jinjingan, aku melenggang penuh percaya diri memasuki arena wawancara. “Dari pesantren mana, Mas?” Pertanyaan itu yang menyambutku. Aku hanya tersenyum, mencoba mengendalikan kegugupan.

Aku pun menjawab semua pertanyaan pewawancara dengan tenang, sesekali aku mengeluarkan sebuah data yang berupa print out untuk menguatkan argumenku. Dan di akhir interview aku mengeluarkan senjata pamungkas, Album Kehidupan.

Interviewer tampak menikmati gambar-gambar di album tersebut. Sampai salah satu dari mereka, Pak Suyanto, mantar Rektor UNY dan Dirjen Pendidikan Dasar, berkata, “Tolong catat email saya. Nanti kalau sudah di Aussie kirim saya email ya.”

Sebuah kalimat yang sudah cukup menggambarkan hasil interview-ku saat itu.

Aku tersenyum. Tuhan kembali mendekatiku.

Kamis, 10 Maret 2016, sebuah surat elektronik dari LPDP datang:

lpdp

Aku me-recall semua perjalananku mendapatkan beasiswa, pahit-manis dan jatuh-bangunnya.

Tak terasa air mataku mengalir.

Sekali lagi Tuhan memeluk mimpiku.

About:
Aziz Awaludin adalah awardee Beasiswa LPDP PK-62, Ksatria Bumantara. Dia merupakan alumni Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang akan melanjutkan sekolahnya ke Monash University, Australia, untuk bidang studi Master of Education in Educational Leadership and Policy. Dia memimpikan pendidikan Indonesia yang berkeadilan. Baca juga tulisannya yang lain di sini.
6 Comments

6 thoughts on “My Scholarship Journey

  1. Rachel Georghea says:

    Cry cry cry

    Keep inspiring Mas! Officially
    salahsatu fans tulisan Mas Aziz 😂

  2. Aziz Awaludin says:

    Hei Rachel…
    Kebalik kayanya nih, harusnya diriku yg ngefans ama finalis putri Indonesia 😀
    Ya, semoga menginspirasi…
    Oya, ditunggu tulisanmu ya 🙂

  3. Dear Aziz, once again you never failed to show us the inspiring yet humbleness
    personalities behind those glasses 🙂

  4. Aziz Awaludin says:

    Hi Tika,
    I’m just an ordinary man, hehehehe…
    You are such an observing woman. And you
    must be a type of a friend who is caring so
    much 😀
    Lucky me knowing you 🙂

  5. eko siamm says:

    assalamuallaikum, mas aziz boleh minta kontak nya,
    nomer whats apps, saya sangat terinspirasi dg cerita
    mas aziz, saya ingin bertanya2 tentang pengalaman
    mas aziz lebih dalam tentang lpdp, maturnuwun

  6. Appreciating the time and energy you put into your site
    and in depth information you present. It’s good to come across
    a blog every once in a while that isn’t the same out of date rehashed material.
    Fantastic read! I’ve saved your site and I’m including your RSS feeds
    to my Google account.

Leave a Reply to Rachel Georghea Cancel reply