Paradigma Jodoh

“Kamu serius mau kuliah lagi setelah lulus S-1 nanti? Hati-hati,lho,bisa susah kamu dapet jodoh kalau sekolah terlalu tinggi.Laki-laki kebanyakan akan jadi kurang tertarik kalau bertemu wanita yang terlalu superior.Lagipula akhirnya juga nanti jadi ibu rumah tangga. Jadi, buat apa capek-capek kuliah lagi?”

Saat itu saya dan beberapa teman telah memasuki semester 6 perkuliahan dan sebentar lagi akan lulus sebagai Sarjana Hukum, sehingga bukan menjadi hal yang aneh apabila “mahasiswa semester tua” seperti kami memperbincangkan tentang apa yang ingin kami lakukan setelah lulus nanti. Ada yang berencana untuk menikah dengan pasangannya selepas wisuda, ada yang sudah ancang-ancang untuk melamar pekerjaan di perusahaan yang telah diidam-idamkan sejak lama dan juga ada yang seperti saya : memilih untuk langsung melanjutkan kuliah.

Sayapun terdiam.

Sebelum pembicaraan tersebut dalam pemahaman sederhana saya, konsep “jodoh ada di tangan Tuhan” dan “tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina” adalah dua konsep berbeda yang tidak secara langsung bersinggungan. Saya percaya bahwa jauh sebelum saya lahir Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang akan menemani saya nanti dalam menjalani hidup, sedangkan belajar adalah suatu proses mengubah dari tidak tahu menjadi tahu. Jadi, tidak ada hubungan antara susah jodoh dengan tingkat pendidikan seseorang. Begitu pikir saya.

Bisa jadi bukan hanya saya yang pernah terjebak dalam pertanyaan semacam ini, tetapi mungkin dengan kondisi yang berbeda, orangtua atau kerabat sebagai penanya misalnya. Niat saya untuk melanjutkan sekolah untungnya tidak memperoleh hambatan yang berarti dalam meraih restu dari kedua orangtua saya, mereka memahami keinginan saya, walaupun awalnya Ayah saya memang sempat ragu memberikan izin, karena menurut Beliau itu akan membuatnya kehilangan momen meminum teh manis hangat buatan anak gadisnya ini setiap pagi dan sore dan Ibu saya yang sempat ragu melepas saya sendirian dalam meraih ilmu di seberang benua. Syukurnya restu merekalah akhirnya yang memuluskan langkah saya hingga saat ini tinggal menunggu hari keberangkatan ke Belanda.

Kembali pada pembicaraan di awal tulisan ini.

Benarkah begitu?

Bukankah pendidikan akan membuat seseorang menjadi lebih berguna tidak hanya bagi dirinya sendiri namun juga bagi sekelilingnya tidak peduli apakah laki-laki ataupun perempuan?

Bukankah katanya kita harus merantau supaya kita tahu rasanya rindu dan ke mana harus pulang?

Bukankah melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi merupakan salahsatu upaya kita untuk memantaskan diri?

Lantas mengapa mimpi seseorang  untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi harus dihalangi oleh paradigma bahwa kuliah tinggi akan membuat para perempuan ini seret jodoh?

Lagipula, bukankah katanya jika sesuatu ditakdirkan untukmu, sampai kapanpun tidak akan menjadi milik oranglain?

Dan jangan lupa, bahwa seorang laki-laki yang berkualitas tentu sepatutnya tidak akan mudah goyah hanya dengan semata-mata melihat status pendidikan sang perempuan,kan?

 

Jangan lupa bahagia 🙂 #semuaakanbaikbaikaja

 

salam,

 

6272-82

 

About:

Rachel Georghea Sentani adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta yang akan melanjutkan pendidikan masternya ke University of Groningen, Belanda untuk program Master of Laws (LLM) International Commercial Law. Tulisannya yang lain bisa dibaca di sini.
4 Comments

4 thoughts on “Paradigma Jodoh

  1. Aziz Awaludin says:

    “Bukankah katanya kita harus
    merantau supaya kita tahu
    rasanya rindu dan ke mana
    harus pulang?”
    Suka deh kalimat ini.
    BTW, bang Husni harus baca ini
    ya 😀

    1. Rachel Georghea Sentani says:

      Terima kasih Mas Aziz!Tapi emang dengan pergi jauh dari rumah bakal membuat
      kita tau rasanya homesick kan..Hahaha harus selalu disebut ya bagian yang
      terakhir!

  2. bifa wisnu says:

    As cited on the journal i’ve ever read
    before… Says “The apparent trends of
    ideal women criteria in INDONESIA
    has shifted as per 3 years following,
    on the average urban adult man
    ranged on 24-34 Y.O, 67 percent of
    the surveyants prefers highly
    education ladies than highly
    “decorated” one. ….”
    Journal xxx:2012

    So… Objevtively speaking , Geek is
    the new chic i belive.

    Personal opinion : persona of a lady
    resembles the lifemate of herself.

    My 50 cent mbak rachel
    CMIIW.

    1. Rachel Georghea Sentani says:

      Hi, Bif! Once again I wish that I found this journal earlier so I can add some more
      scientific reasons to my writing,. Indeed, geek should be the new chic and if it is
      already then I have nothing to worry about 😀 Thank you!

Add Your Comment: