Untuk Mereka Yang Berjuang Menghidupkan Mimpinya

Semoga tulisan ini belum terlambat untuk memaknai Hari Pendidikan Nasional.

2 Mei lalu Indonesia memperingati Hardiknas. Timeline media sosial ramai, banjir kata dan artikel tentang berbagai sudut pandang soal pendidikan di negeri ini. Beberapa akun awardee LPDP dipenuhi dengan repost artikel Bapak Anies Baswedan berupa pesan untuk pelancong aksara di tanah rantau. Yang sementara belajar terpacu semangatnya, yang siap berangkat semakin tidak sabar mau memulai petualangannya.

Belajar menurut saya adalah salah satu bentuk perjuangan. Berusaha untuk meraih mimpi, selangkah lebih pintar dan maju, atau untuk memperbaiki nasib. Beberapa orang termasuk saya juga menganggap belajar itu sebagai ibadah, amal jariyah yang Insya Allah akan senantiasa mengalir pahalanya. Sebelum resmi memperoleh beasiswa dalam doa saya selalu berkata “Kalau memang rejekiku masih Engkau simpan sebagian, semoga itu dalam bentuk beasiswa. Semoga dengan beasiswa saya bisa memperbaiki diri ini sekali lagi, menjadi lapak saya untuk beribadah melalui belajar, dan cara bagi saya untuk lebih mensyukuri nikmat Tuhan di dunia ini.”

Saya sadar, di negara ini ada ribuan anak bangsa yang saat ini sedang berjuang, belajar dan meningkatkan kualitasnya, memantaskan diri demi sebuah tiket menuju impian bernama beasiswa. Dan sungguh, apa yang sudah saya jalani dan peroleh selama ini tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan orang lain di luar sana. Ada yang lebih matang persiapannya, lebih keras perjuangannya, dan yang lebih penting, lebih lapang hatinya untuk menerima kegagalan.

Saya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang sangat pas-pasan. Saat mendaftar universitas pun saya terbilang beruntung karena kampus incaran hanya mensyaratkan bahasa Inggris level B2, yang setara dengan IELTS 6.0. Saya yang saat pertama kali tes IELTS hanya mendapat skor sekian bisa sedikit lega karena tidak perlu retake yang pastinya memakan biaya besar. Beda kisahnya dengan teman saya. Di sepanjang 2015 dia melakukan retake IELTS sampai tiga kali. Dapat 6.0, belajar lagi dan retake lagi. Sekali lagi 6.0, dia menyerah dan akhirnya hijrah ke Pare agar lebih fokus belajar. Semesta menjawab usahanya, di tes ketiga skornya bisa tembus di angka 6.5. Bisa kalian bayangkan banyaknya waktu dan uang yang dia habiskan untuk sebuah angka 6.5? Usahanya ini juga mengantarkan Mimi, begitu panggilannya, sebagai awardee PK-63 LPDP yang siap meraih impiannya di University of Glasgow, UK.

Saya mendaftar ke 2 universitas untuk 3 program berbeda. Selain Universitat Autònoma de Barcelona, saya juga apply ke 2 program di Politecnico di Milano. Memilih kedua kampus itu latar belakangnya sederhana saja, IELTS saya saat itu tidak cukup untuk apply ke universitas lain yang umumnya meminta 6.5. Sesuatu hal yang belakangan saya syukuri karena ternyata program UAB ini sangat sesuai dengan bidang saya (dan karena double degree jadi saya bisa belajar sekalian jalan-jalan, hehehe…). Diterima di semua program incaran membuat saya jadi punya tiga ‘tiket’ untuk belajar di luar negeri. Tapi apa kabar teman saya Kiky dari PK-62? Dia sampai apply ke 15 universitas di dunia dan saat ini sudah mengantongi 10 LoA. Rasa-rasanya hampir semua kampus di Australia dan Eropa tidak luput dari radarnya. Bisa dibayangkan usahanya mengejar mimpi untuk bisa belajar di luar negeri? Dan semua itu dia lakukan sebagai persiapan terburuk jika saja dia gagal diterima di universitas tujuannya, dan sebagai usaha untuk mencari kampus terbaik. Sungguh tidak ada apa-apanya dibanding saya yang ‘cemen’ hanya karena terkendala IELTS. Sekarang Kiky bisa dengan senang hati memilih mau kuliah di mana, dan pilihannya pun jatuh ke University College London di UK.

Screen Shot 2016-05-04 at 1.46.00 PM

Kiky mendaftar ke 15 universitas dan sudah mengantongi 10 LoA

Sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan ke beasiswa LPDP, saya mendaftar di 3 beasiswa. Perjuangan saya dimulai sejak akhir 2015. Setelah gagal di Chevening Awards, Tuhan ternyata punya rencana untuk menjadikan saya sebagai awardee beasiswa LPDP. Belakangan saya juga diterima untuk Erasmus + tetapi saya sudah kadung jatuh hati pada LPDP. Dalam hati saya sangat mensyukuri rencana Tuhan yang satu ini. Jika bukan karena beasiswa ini saya tidak akan pernah kenal dengan Agni, teman sekamar saya selama mengikuti PK. Agni sudah giat berburu beasiswa dari 2011, sembilan kali kegagalan menempanya sebelum akhirnya LPDP menjadi beasiswa ke 10 yang dia apply dan alhamdulillah, lulus. Bisa kalian bayangkan betapa tegar dirinya dalam setiap kali dinyatakan failed dalam beasiswa yang dia daftar, dan betapa dia tetap berbesar hati dan terus bangkit sampai akhirnya Tuhan mungkin berkata ya, sudah saat nya kamu memetik hasil. Universe supported her, Allah rewarded her. Agni sudah siap dengan risetnya tentang yang Infection Disease yang akan dia perdalam di National Cheng Kung University, Taiwan.

Screen Shot 2016-05-04 at 1.46.32 PM

Agni sudah berburu beasiswa sejak 2011

Lebih dari semua kesuksesan yang sudah diraih, jangan lupa untuk selalu menoleh ke belakang, flash back kembali apa yang sudah dijalani, maka akan kalian temui betapa hidup sangat pantas untuk disyukuri. Hal ini saya ilhami kembali setelah membaca tulisan dari teman saya Aziz di blog angkatan Ksatria Bumantara beberapa hari lalu. Lewat tulisannya saya akhirnya tahu bagaimana Aziz selama ini menjalani hidupnya, susah-susahnya sewaktu masih sekolah dulu, hingga usahanya membiayai kuliah dari berjualan Kamus Santri. Saya bisa bayangkan betapa bangganya orang tuanya yang berprofesi sebagai TKI dan penjual nasi uduk saat Aziz mengikuti short course ke Turki, atau saat pengumuman beasiswa LPDP diumumkan. Aziz hanyalah satu contoh anak bangsa yang berhasil membuktikan bahwa ya, anak miskin pun bisa berhasil selama mau berusaha dan berdoa.

Saya jadi teringat dengan pengalaman saya. Papa saya yang walaupun hanya tamatan STM sejak dulu sangat peduli pada pendidikan. Sewaktu kecil saya ingat, setiap Sabtu sepulang dari proyek Papa pasti mengajak saya ke toko buku, di sana saya boleh beli apa saja yang saya mau, buku cerita apa saja. Bahkan ketika krisis moneter 1998 membuat Papa kehilangan pekerjaan, tidak pernah sekalipun di Hari Kamis setiap minggu saya ketinggalan membaca Bobo terbaru, karena Papa selalu ingat untuk membelikan saya majalah baru. Masih teringat jelas juga menjelang kelulusan SMA Papa pernah berpesan, “Kalau kamu mampu, suatu hari nanti pergilah sekolah ke Belanda (Delft). Di sana Jey bakal belajar banyak hal, bisa membaca buku apa saja di perpustakaannya yang besar, juga supaya bahasa Belandamu bisa lancar karena terbiasa bicara dengan moyangmu di sana.”. Nasehat ini mengendap dengan baik di kepala. Bahkan ketika Bapak wafat di 2009 dan saya harus ‘mengalah’ untuk kerja sambilan agar bisa tetap kuliah, saya tetap percaya bahkan suatu saat saya pasti akan dapat beasiswa. Yah…, meskipun melenceng dari target negara awal, saya yakin ini bagian dari rencana Tuhan yang senantiasa memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.

Pengalaman teman-teman di atas merupakan bukti nyata bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selama kita mau berdoa dan berusaha. Karena tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Dan untuk semua kesulitan dan kegagalan yang menerpapun sesungguhnya hanyalah cara Tuhan mengajarkan kita tentang betapa nikmatnya berjuang dalam merengguh impian. Karena sesungguhnya tidak ada rejeki yang tertukar, dan tugas kitalah untuk berlari menjemputnya. Sungguh hidup akan lebih dimaknai dan disyukuri setelahnya.

Dan untukmu Ibu Pertiwi, yang saat ini sekali lagi siap melepas anaknya berangkat mengejar ilmu dengan gembira, sembari menanti yang telah tunai tugas belajarnya untuk pulang dengan bangga. Ada masa depan cerah yang menantimu di depan sana. Sabarlah Ibu, ada kami di sini. Mungkin kami tidak punya janji yang hakiki, tapi kami akan senantiasa memantaskan diri demi bakti kepada pertiwi.

Kata orang, pendidikan ada cara terbaik untuk mengubah nasib.

Dengan kita, Indonesia punya masa depan yang cerah. Insya Allah.

About:
Jeanne Svensky Ligte adalah alumni Teknik Industri Universitas Hasanuddin yang akan melanjutkan pendidikan masternya di Universitat Autònoma de Barcelona, Spain, untuk program European Master in Logistics and Supply Chain Management. Pengalamannya 3.5 tahun tinggal di Papua membuka matanya bahwa Indonesia layak menjadi bangsa yang hebat dengan semua kekayaan alamnya. Tulisannya yang lain bisa dibaca di sini.
4 Comments

4 thoughts on “Untuk Mereka Yang Berjuang Menghidupkan Mimpinya

  1. Aziz Awaludin says:

    Jen, Jen, please deh tulisanmu ini bikin gue
    merinding berkali-kali…Papamu di Sana
    pasti sedang tersenyum liat kamu yg
    sekarang.
    :’)
    Kita pergi untuk kembali dan tentunya
    mengabdi. Mari kita rayakan kehidupan
    kita 🙂

    1. Jeanne Svensky Ligte says:

      Tulisan ini gak bakal jadi kalau bukan karena baca tulisanmu sebelumnya. Terima
      kasih karena sudah menginspirasi, dan sampai ketemu di batas impian yang jadi
      nyata (:

  2. Dear Jey, I really love how you related each of awardees stories and yours. Your father
    must be proud of you!

    Dad is a Son’s first hero and daughter’s first love (anonymous)

    1. Jeanne Svensky Ligte says:

      And lucky me my father have taught me how to fall in love with books and
      education in some perfect ways (:

Add Your Comment: