Memoar tentang Kesari

Akhirnya saya bertemu dengan seratus dua puluh lima awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP di sebuah kota tak jauh dari ibukota negeri ini, tepatnya di kota Depok. Pertama kalinya kami melihat satu sama lain dalam sebuah ruang yang nyata, bukan lagi dunia maya. Tak ada perasaan kaku ataupun canggung kala itu. Walaupun setiap orang membawa warna, budaya, dan latar belakang yang beragam, namun demikian sekat – sekat tersebut seolah tak menghadirkan jarak antara yang satu dengan lainnya. Alasannya begitu sederhana namun luhur, karena kami menggenggam sebuah mimpi yang sama, mimpi untuk membangun tanah air Indonesia. Satu mimpi itulah yang kami abadikan dalam sebuah nama, Ksatria Bumantara.

* * *

Alunan musik SheilaOn7 – ‘Melompat Lebih Tinggi’
selalu mengawali class call setiap hari.

Kemeriahan langsung memenuhi aula dalam sekejap tatkala
kami melangkahkan kaki memasuki ruangan aula wisma.

Seluruh cangkir kami kosongkan dan kami hadir sebagai pribadi yang haus
akan inspirasi dan semangat nasionalisme untuk membangun negeri.

Senyuman memenuhi setiap sudut ruangan
menunjukkan integritas ia yang hadir tepat pada waktunya.

Kursi dan meja yang selalu setia menunggu kehadiran tuannya
perlahan pun mulai terisi.

Semangat pagi kami gelorakan untuk menyambut tokoh – tokoh yang akan
membagikan ilmu, pengalaman, dan jiwa nasionalisme mereka.

Dengan badan tegap dan suara lantang nan merdu kami nyanyikan lagu
‘Indonesia Raya’ dan ‘Mars LPDP’ untuk mengawali setiap sesi selama enam hari.

Tak bosan – bosannya kami meneriakkan kejayaan LPDP
dan jargon ‘Menerbangkan Asa, Membangun Bangsa’.

* * *

Hari 2 Sesi 2 What, Why, and How to LPDP & Visi Kepemimpinan LPDP - M. Sofwan Effendi (8)

Tiga minggu sebelum pertemuan saya dengan Ksatria Bumantara seakan menjadi masa – masa yang terasa amat panjang. Pekerjaan kantor dan tugas – tugas pra-PK pun menghampiri dengan deadline yang saling kejar – kejaran. Pada awalnya tugas – tugas tersebut terkesan seperti tugas orientasi zaman kuliah dulu, ketika sebuah tugas diberitahukan pukul 4 pagi dan harus dikumpulkan sebelum pukul 9 pagi. Salah seorang diantara kita membuatnya menjadi lelucon dimana tugas pra-PK bahkan datang lebih pagi dari suara adzan subuh. Hiburan dan canda tawa dalam media sosial membuat semua tugas terasa lebih mudah dan menyenangkan. Daripada mengeluh, alih – alih saya berusaha mencoba menyelaraskan pekerjaan kantor dengan tugas pra-PK sehingga seluruhnya dapat selesai dengan baik.

Dalam PK-62 ini, saya tergabung ke dalam sebuah kelompok yang dikenal dengan nama Kesari. Nama tersebut diambil dari nama seorang Raja di Bali (882M – 914M), ialah Sri Kesari Warmadewa, seorang pendiri dinasti Warmadewa yang makmur selama beberapa generasi. Salah satu keturunan beliau yang terkenal adalah Raja Udayana. Kesari melambangkan nilai inspiratif. Selain Kesari, adapula lima kelompok lain yang melambangkan nilai – nilai LPDP, yaitu Ascarya –  kesempurnaan; Arung Palakka – kepemimpinan; Ayatana – profesionalisme; Bogadenta – integritas; dan Mulawarman – sinergi.

* * *

Kesempatan untuk berkontribusi dalam PK bermula ketika saya pun menawarkan diri untuk menjadi ketua kelompok Kesari dan mengkoordinir tugas – tugas kelompok yang beranggotakan saya dan dua puluh satu awardee tersebut. Kesari menjadi sebuah tempat pembelajaran yang cukup menarik tatkala saya menemukan bahwa usia saya yang jauh lebih muda dari hampir semua anggota kelompok dengan kepribadian yang beragam, dan koordinasi kelompok yang hanya mungkin melalui media sosial. Semua itu menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Walaupun kala itu, saya belum benar – benar mengenal mereka satu per satu, namun jauh di dalam lubuk hati, saya yakin mereka semua adalah pribadi yang luar biasa.

Malam pertama ketika kami berkumpul dan berencana untuk berlatih Kunokini, sebuah performance by you for you yang melibatkan seluruh anggota kelompok. Saya dan ketua kelompok lainnya dipanggil PIC PK LPDP, untuk membahas tentang tata tertib yang akan diberlakukan selama PK berlangsung, sehingga saya tidak dapat berlatih bersama dengan mereka. Sehingga, saya menyarankan mereka untuk berlatih tanpa saya, dan meminta bantuan Ricky yang ahli dalam bidang musik untuk memberikan arahan mengenai kolaborasi alat musik modern dan tradisional yang digunakan untuk mengiringi lagu Stitches – Shawn Mendes yang akan kami bawakan.

Selesai briefing bersama PIC PK, saya kembali ke aula dan terpukau melihat latihan perdana mereka. Suara gitar dan biola yang dipadukan dengan pukulan gendang, cetik – alat musik tradisional lampung, dan krecekan menunjukkan harmonisasi yang indah seperti barisan yang tersusun rapi di atas panggung.

Sejak itulah, saya yakin setiap orang berusaha memberikan yang terbaik.

Kesari hampir selalu memperoleh tempat duduk yang paling depan di setiap sesi. Saya yang mendapatkan tugas untuk mengutip kata – kata inspiratif dari setiap tokoh yang hadir sebagai pembicara pun terpaksa mengorbankan beberapa teman – teman Kesari untuk duduk di baris terdepan. Terkadang saya merasa jahat membiarkan mereka berjuang dengan kepala terkantuk – kantuk di depan sana. Namun melihat ekspresi ngantuk mereka yang beraneka ragam membuat saya tertawa cekikikan di belakang.

Mengkoordinir dua puluh satu orang tidak mungkin tidak menemui kendala sama sekali. Sebagai orang yang cukup mudah panik, saya berusaha menyiasatinya dengan selalu terbuka dengan mereka. Beberapa menjadi pendengar yang baik tatkala saya mengeluarkan keluh kesah yang mengganjal dan tak jarang pula saya meminta saran dan solusi untuk menghasilkan keputusan bersama yang lebih baik. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, tanpa ragu saya menunjuk secara langsung, namun terkadang saya juga meminta kesediaan bagi siapa saja yang ingin mengerjakannya. Semua ini karena saya percaya kepada mereka, dan saya kira oleh karena kepercayaan itu pula, mereka juga memberikan yang terbaik dalam setiap tugas yang dikerjakan. Mungkin memang selayaknya demikian, harus terbuka, percaya, dan berusaha untuk mengayomi.

Semangat mereka membuat saya lebih kuat. Saya berusaha untuk tidak tidur sebelum semua tugas kelompok selesai, dan hadir lebih dulu sebelum sesi di mulai. Saya yang biasanya tidak kuat untuk tidur larut, kali ini, saya berhasil meruntuhkan tembok – tembok batasan tersebut. Biasanya apabila tidur saya tidak cukup, keesokan harinya saya pasti akan meriang dan sakit kepala. Namun di sini hal – hal yang saya khawatirkan malah tidak terjadi sama sekali. Semua karena saya jalani dengan bahagia dan tanpa beban sama sekali.

* * *

Untuk Kesari, terima kasih telah menjadi inspirasi, setidaknya bagi saya pribadi.

Afrita Jayati Sudiarto, sosok yang kalem namun selalu siap membantu kapan saja jika dibutuhkan; Agung Yansusan, salah satu kontributor live update yang telah menjadikan PK-62 trending topic di Twitter; Aziz Awaludin, diam – diam ia menyimpan bakat terpendam menjadi MC dalam acara by you for you; Bianca Gaea Ginting dan Dewi Septanty Widyaningrum, punggawa tim ice breaking PK-62; Dally Chaerul Shaffar, orang yang paling bisa di-bully di Kesari tapi secara mengejutkan melakukan aksi heroik saat rafting; Debby Nazzty Pratiwi, yang sudah berusaha sekuat tenaga memperagakan kata – kata dalam kontes ‘Berpacu dalam Melodi’, walaupun Fida tetap tak berdaya untuk menjawabnya; Fida Amalia Fathimah, pemain biola andalan Kesari; Frega Ferdinand Wenas Inkriwang, yang telah memimpin seluruh awardee dalam mengucapkan ikrar Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia; Hamid Hunaif Dhofi Alluza, pemegang rekor sticker sedih pertama dan orang yang pertama kali kehilangan nametag-nya di Kesari; Hernando, yang selalu terlihat cool dan bangga dengan tampangnya yang muda; Iqbal Satwika Widyanugraha, pria casanova yang mendambakan pasangan hidup; Madeleine Audrey Gandasasmita, tukang jepret Ksatria Bumantara yang paling aktif; Patimasang, PIC jajanan nusantara di event closing PK-62; Rachel Georghea Sentani, koordinator acara, Instruktur zumba dan flashmob yang lincah; Ricky Valdy, seorang pemikir yang ahli dalam musik; Teguh Kristian Perdamaian, ketua angkatan Ksatria Bumantara yang pertama kalinya marah dalam permainan ‘All for One’ pada saat sesi outbound di Sukabumi; Tika Nurhasanah, PIC sesi by you for you PK-62; Tirza Carmin Hendrik, salah satu dokter yang melayani peserta donor darah closing PK-62 dengan tulus; Wintia Arindina, penari handal asal Lampung yang selalu ketinggalan nametag-nya; Zabrina Listya, seorang ibu dua anak yang selalu menjadi konsultan dalam masalah percintaan.

Hari 4 Outbond Sukabumi (20)

* * *

Enam hari bersamamu yang tak akan pernah tergantikan dan juga terlalu mahal untuk diulang kembali.

* * *

About Niko Eka Putra. Awardee LPDP PK-62 yang akan melanjutkan studi dalam bidang Biomedical Engineering di TU Delft, Netherlands. www.myjourneykeepsinspiring.wordpress.com

Logo MJKI

0 Comments

Add Your Comment: