ASCARYA DI MATA SAYA

Jika Ascarya kuterjemahkan dalam rantai bahasa

Maka yang kutemui adalah makna yang berbeda dari Ascarya yang kukenal

Tidak terbatas pada itu, Ascarya menyimpan berbagai rahasia yang baru kutahu

Dalam perjalanan yang tak lama, aku belajar lagi tentang Ascarya dan mimpi mereka

Bukan, bukan mimpi mereka!

Namun MIMPI KAMI yang berpendar dalam dua puluh satu kepala

Mulai bergerak dalam dua puluh satu jalan, dimulai dengan kordinat yang sama

Mempertemukan dua puluh satu visi dengan peraduan berbeda

Ascarya tidak istimewa, tapi mereka luar biasa

Jika Ascarya boleh kuceritakan

Maka maafkanlah jika ia terlalu sendu, karena aku takut Ascarya lebih dari itu

Apa kabar Ascarya?

Salam, dari tepian Mahakam dan ringkih kota kecil bernama Samarinda

 

ascarya2

 

26 Maret 2016 – RS AW Sjahranie Samarinda

Sudah saya duga, Ksatria Bumantara akan dipecah lagi menjadi beberapa ranting komunikasi. Saat itu, saya tidak berminat turut campur lebih jauh. Nama Ksatria Bumantara dan nama-nama kelompok adalah usaha saya untuk andil di PK. Saya kira, cukup sampai di situ dulu. Pikiran saya harus terbagi pada tiga hal: Ibu yang sedang dirawat, tugas annual report yang mendekati deadline serta tugas PK yang perlahan memekakkan.

Ascarya adalah sebuah nama yang telah membuat saya jatuh cinta sejak pertama kali mengusulkannya.  Entah darimana wahyu nama itu, yang pasti saya suka. Saya bersyukur  bisa tergabung di kelompok ini, saat itu saya berpikir mungkin ini jodoh. Suatu sore, di hari pertama Ascarya berkumpul secara maya, saya lepaskan diri dari layar laptop dan ponsel sejenak untuk konsen merawat Ibu. Saat kembali, saya melongo karena group Ascarya telah ribut memberikan vote agar saya menjadi ketua.

Please, don’t do this to me! rintih saya. Sikap saya memang dasdescakcek, bukan berarti saya ingin jadi ketua. Sungguh, dalam kondisi saat itu tak terpikir sekalipun untuk mengambil risiko. Saya hanya senang bicara dan berimajinasi. Oh, menulis chat tepatnya. Namun, saat itu juga saya teringat lagi quote menarik dalam buku Conversation with God yang ditulis Naele Donald Walsch: life begins in the end of your comfort zone. Ada tantangan di sana, mungkin ada pelajaran di sana. Toh, saya tidak sendiri. Ada dua puluh orang yang membawa senjatanya, siap menyokong saya melawan gempuran tugas dan dinamika yang tidak bisa terbaca. Lantas apa yang saya takuti?

2 April 2016 – TK Islam Cerdas Ummat

Lebih dari dua minggu bertemu maya, akhirnya wajah-wajah itu bisa bertatap. Yang istimewa dari pertemuan Ascarya adalah hujan, TK dan sebuah lingkaran klasik.

Pertemuan kami disambut hujan deras. Saya di dalam taksi dari bandara Soeta cemas. Seumur hidup, itu adalah pertama kalinya saya ke Depok. Biarkan saya lepas di Jakarta, saya bisa bertahan sendiri. Tapi di Depok, saya tak tahu apa-apa. Bersama mba Marisa, mahasiswi kedokteran spesialis UI, saya berusaha tenang di dalam taksi yang melewati tol entah seberapa panjangnya.

Menemukan TK Islam Cerdas Ummat seperti bertemu risoles saat buka puasa, terharu. Terima kasih untuk Fitra Hayatun Nisa dan keluarga yang sangat ramah menyambut dan menyediakan tempat menginap bagi Ascarya di malam itu. Sungguh tanpa kebaikan hati keluarga beliau, Ascarya tidak akan punya kisah berbeda yang menjadi kenangan indah saat menyambut PK.

Saat bertemu Ascarya pertama kali, canggung, agak aneh karena masing-masing masih jet lag. Keajaiban lantas terjadi dalam kesangsian saya. Seseorang bernama Jeanne Svensky Ligte rasanya punya andil besar membuat keajaiban itu berada pada sumbunya. Dia punya energi lebih daripada kami, bisa menaikkan mood dengan suaranya yang unik. Supelnya Jenny telah membangkitkan karakter asli Desica Ana Nuruljanah yang sejak pertama kali bertemu sudah tampak bulliable. Umpan itu langsung disambut sikap “suka membully” Heraldus Panji Arikson yang ternyata (awh) lebih muda daripada saya.

Dalam sebuah lingkaran kami mulai perkenalan klasik, di sana saya berusaha membaca karakter mereka satu per satu. Silfiani Buransa, Mesquita Handayani Prasetyo, Sarah Irene Nainggolan adalah tiga perempuan dengan sikap kasual. Jika diibaratkan film Ada Apa Dengan Cinta, mereka bertiga adalah karakter teman-teman Cinta yang ricuh, kalem dan bijaksana. Lalu ada Anna Desiyanti RH yang menjelma menjadi tutor galak untuk latihan kegiatan seni By You For You. Saya tak menyangka, Ascarya punya penyanyi dengan suara yang sangat indah (yang parahnya baru saya tahu pada hari pertama PK).

Di kubu pria, yang pertama membuat saya melongo adalah Ali Assegaf. Lelaki itu harus membuat saya mendongak karena tingginya berlebih. Ditambah jambang dan wajah Arab, Ali adalah figur model yang rasanya salah masuk kandang. Sekilas pun saya tahu, Ascarya bukan bubuhan artis. Namun siapa sangka, wajah Ali adalah karakter tipuan. Ternyata dia sama hebohnya seperti Astra Goldie Aulia, sang koreografer lip synch combat.

Astra adalah yang mati-matian mengajarkan Muhammad Arrasy Rahman, anggota termuda yang hobi dengan Artificial Intelligence, untuk bisa berakting sebagai Sadam (karakter yang bisa bernyanyi dan menari di lagu Jagoan ost. Petualangan Sherina). Astra juga yang mengarahkan dua bodyguard Sadam mas Budi Sugandha Nazam dan Roni Permana Saputra yang sebenarnya (dari wajah) kurang cocok jadi geng anak sekolah. Masalahnya bukan hanya pada wajah, tapi karena lawan geng mereka salah satunya adalah Fitri Amalia Shintasiwi, bendahara Ksatria Bumantara, yang kecil mungil seperti bola pingpong. Sungguh perpaduan karakter yang agak maksa walau tetap menarik karena mereka berani malu. Di sisi lain, ada Ryan Abraham yang sejak awal saya lihat punya karakter paling tenang. Perawakan itu mengingatkan saya pada A Liem, tokoh rekaan di salah satu novel saya. Ryan adalah sarjana Fisika ITB, hmm.. oke, cukup, saya tidak sanggup membicarakan Fisika di sini.

4-9 April 2016 – Wisma Hijau

Dalam seminggu kebersamaan di PK, Muhammad Sarwar Khan muncul sebagai ikon lain Ascarya. Dia selalu vokal dalam setiap kesempatan materi dan ternyata juga seorang musafir cinta yang pernah masuk televisi dalam acara Pak Mario Teguh. Ada musafir cinta, Ascarya juga punya peneliti LIPI, mas Maulana Arifin yang paling senior dan akan melanjutkan doktoral di University of Stuttgart (dia adalah satu-satunya perwakilan Ascarya di Jerman, wah!).

Dalam seminggu itu pula saya kagum sekaligus iri pada perempuan terakhir yang bergabung di geng Ascarya, namanya Clarissa Rizky Rosyani alias Ica. Saya kagum karena dia bisa menjadi PJ Daily Report dengan sangat baik di masa awal ketika kami masih oleng kemana tugas itu akan dibawa. Seorang sahabat saya bilang, PJ DR adalah tugas paling suck di PK. Saya bisa melihat itu dari wajah Ica yang hampir setiap malam harus tidur paling terakhir untuk mengumpulkan tugas DR sebelum deadline. Namun saya tahu, Ica adalah pekerja keras yang bisa mandiri menyelesaikan tugasnya.

Terakhir ada pula mas Idham Badruzaman, ayah muda yang jadi videografer andalan Ksatria Bumantara. Bersama Jenny mereka adalah dua orang punggawa Ksatria Bumantara yang akan melanjutkan studi di Universitat Autònoma de Barcelona (kampus yang sempat masuk radar saya sebagai seorang madridista haha).

Ascarya introvert. Tidak bisa membuat yel-yel kece seperti Arung Palakka atau Bogadenta. Setiap perwakilan lomba maju ke panggung, kami justru mem-boo, biar agak berbeda. Bahkan di hari-hari terakhir, Ali menjadi orator yel-yel baru yang terinspirasi dari drama Kera Sakti: liar, nakal, brutal, membuat semua orang menjadi gempar (serius, ini fakta). Tapi dibalik itu, Ascarya adalah geng multitalent. Selain ada sang filsuf, banyak dari mereka yang berani malu atau tak tahu malu saat jadi perwakilan di lomba, ada juga yang hampir “jenius” dan bisa membuat Tim PK pertama kalinya kalah dalam game 20.

Alhamdulillah, kami kalah di lomba pertama BYFY Berpacu Dalam Melodi, karena perwakilan kami adalah Desica yang lebih paham lagu Korea dibandingkan lagu Indonesia. Tapi seterusnya, kami selalu menitipkan juara. Ascarya jadi juara 3 dalam Stand Up Comedy karena kepercayaan diri Panji menggoda Rachel dari kelompok Kesari. Berkat Jenny (Sherina KW) dan Astra (Sadam KW yang mendepak Arrasy di saat-saat terakhir sebelum tampil), Ascarya juga menjadi juara 2 lip synch combat. Plus juara 1 Ksatria Bedangdut berkat konstum all out para pemerannya dan tentu berkat mba Anna serta mba Sarah yang pasrah jadi biduwanita.

Juara DBA!

Juara DBA!

Terakhir, yang paling membanggakan adalah kami menjadi juara game Dor Bum Ah (DBA). Kemenangannya dramatis dan sangat prestisius karena menjadi satu-satunya game kelompok dari Tim PK (bukan dibuat oleh Ksatria Bumantara). Thanks to Astra sang koboi yang sabar di-bully dan mampu membawa kami menang meski sempat terpuruk dengan nilai terendah kedua. Jasamu akan selalu kami kenang, tra.

Lalu apa lagi?

Tidak akan cukup ditulis di sini. Tapi setelah ini, akan lebih banyak cerita Ascarya karena kami akan menyebar untuk belajar ke 10 negara. Ascarya siap membuka cerita baru dan membagi pengalaman istimewa lain pada momen-momen selanjutnya.

Hai Ascarya! Semoga ada satu waktu di masa depan yang mengizinkan kita bertemu lagi dalam satu lingkaran yang sama, bercerita panjang lebar tentang mimpi dan dunia yang sudah kita tapaki. Jangan berhenti di sini. Kisah kita baru dimulai dan tidak akan pernah pupus bahkan hingga kita lulus.

Sampai jumpa dalam kepingan sejarah lain, Ascarya. Jangan pernah lupa bahwa kita Sempurna (bukan Bogadenta).

 

Salam

 

Tentang Penulis:

Ainun Nimatu Rohmah berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur, bekerja di sebuah perusahaan daerah dan akan melanjutkan studi di Leeds University Business School pada jurusan Corporate Communication, Marketing and Public Relation. Mencintai menulis dan bercita-cita membuat buku tentang sepak bola 🙂

9 Comments

9 thoughts on “ASCARYA DI MATA SAYA

  1. Rachel Georghea says:

    Ainun, selalu deh jago pilih diksi yang
    bisa menyentuh even bukan anak
    Ascarya tapi bisa ngerasain eratnya
    bonding antar anak Ascarya. Terharu
    hihi

    1. Ainun says:

      Thank you Rachel 🙂 🙂

  2. Jeanne Svensky Ligte says:

    Ainunnn… Dibalik jahilnya aku yang suka niru-niruin yel-yel kelompok lain percayalah,
    aku akan selalu bangga menjadi anak Ascarya. Kalau tidak bangga tidak mungkin selalu
    all out tampilannya di setiap By You For You kan? Dan kenapa harus bangga? Karena
    kita sempurna!

    1. Ainun Nimatu Rohmah says:

      No doubt jen, kamu mmg salah
      satu kompor Ascarya yg bikin
      hangat suasana 😀

  3. Ascarya, Sempurna!

    1. Ainun Nimatu Rohmah says:

      Kesari, selalu di hati!

  4. Ryan Abraham says:

    Mba Ainun, maaph T.T ga tau ibu lagi
    sakit saya maen tunjuk jadi ketua.

    1. Ainun Nimatu Rohmah says:

      Haha oya, lupa kamu yg bikin ulah

  5. Agni says:

    BOGACARYA FOREVER!
    Kenal mbak Ainun pas sama-sama di
    Tim Acara udah suka sama
    personalitynya mbak dari awal.
    Sayang ga sempet foto bareng Tim
    Acara.
    Semoga ada kesempatan ‘main-main’
    di acara lain sama Ainun 😉