Pendar Cahaya Bulan Memelukku

Ingatanku tiba pada suatu malam yang sangat biasa: aku, ayahku, ibuku, dan abangku, saudara kandungku satu-satunya. Rembulan mengawang rendah, awan tipis seperti berasap-asap melingkupi bola matanya yang sendu. Cahaya pucatnya berpendar dipantulkan pucuk-pucuk pohon kelapa yang melambai-lambai, entah kepada siapa. Aku dipakaikan ibu jaket wol hijau tua, sedikit berbunga, tapi tak berenda. Abang dipakaikan ayah jaket bercorak hitam, coklat muda, dan biru tua, dari bahan wol juga.

Sisa hujan sore tadi masih menggenang di tepian jalan aspal berbatu. Suara jangkrik menguasai sudut-sudut temaram di tepi padang ilalang, menebas sepi-sepi. Sepeda motor ayah, Yamaha PX-80, warna merah, masih kerap lalu lalang dalam mimpiku. Malam tadi, ia menghampiriku.

September moon, Bremen, Deutschland, 2012.

September moon, Bremen, Deutschland, 2012

Seperti yang dikisahkan kunang-kunang kepadaku. Malam itu, kami pulang dari rumah kakek. Ayah membonceng abang di bagian depan, ibu duduk di bagian belakang, aku digendong ibu sehingga pandanganku menghadap ke belakang. Pada malam yang dingin itu, hanya aku saja yang menatap teduh wajah rembulan, sesekali ia merayuku, tak ada orang lain tahu. Aku bertanya pada ibu: “Wahai ibu, mengapakah gerangan rembulan mengikutiku dan masih tak hendak pulang? Bukankah malam semakin merambat? Tak takutkah ia dipeluk gelap?” Semakin erat ibu mendekapku. “Tidurlah Nak, sebentar lagi kita sampai”.

Payung langit dipenuhi anak-anak bintang yang berkerlap-kerlip memperhatikan kami. Seperti untaian cinta ayah yang mencium lembut rambut abang, seperti helaian cinta ibu yang menidurkanku dalam pelukannya, malam yang sangat biasa itu sesungguhnya teramat istimewa.

***

Puisi untuk Ibu

Helai-helai benang yang ia renda menjadi doa.
Derap-derap langkah yang ia hentakkan melawan masa.
Jaring-jaring rencana
yang berkelindan dalam kepalanya.

Letih dan bahagia yang mengambang di sela renyah tawanya.
Bias-bias harap yang berjentera
dalam bola matanya.
Butir-butir peluh yang ia seka dari keningnya.

Dingin malam, setangkup tangan.
Dibelai hembusan angin senja,
di wajahnya, aku melihat bayang-bayang surga.

Bandung, Februari 2016

***

Selamat Hari Ibu, teruntuk para Ibunda kita tercinta dan Ksatria Bumantara yang telah menjadi Ibu.

Bunga untuk Ibu, Castello Sforzesco, Milan, Italy

Bunga untuk Ibu, Castello Sforzesco, Milan, Italy, 2015

2 Comments

2 thoughts on “Pendar Cahaya Bulan Memelukku

  1. Aziz Awaludin says:

    keren rangkaian katanya mba hesss…
    emang penulis banget sih
    ya…ditunggu tulisan lainnya mba
    hestyyyy

    1. Hesty Susanti says:

      Terima kasih Aziz. Siap insyaallah
      nanti nulis lagi pas ada inspirasi. 🙂

Leave a Reply to Hesty Susanti Cancel reply